Imam Syafi’i Pernah Dirantai dan Dipenjara, Beliau Tetap Mulia Disisi Allah

    0
    50

    Oleh Ustaz Miftah el-Banjary Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur’an, Pensyarah Kitab Dalail Khairat

     

    Surabaya,(gerakjatim.com) – Nama besar Al-mam mujtahid, Al-Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i atau lebih dikenal dengan nama Imam as-Syafi’i terdengar menggaung di negeri-negeri Islam. Kehebatan beliau dalam berhujjah dan berdebat tak tertandingi, sehingga memunculkan banyak tokoh pembesar yang iri dan hasad akan kepopuleran beliau.

    Di antara yang ingin menghancurkan karier Imam Syafi’i ada seseorang bernama Mutharrif bin Mazin, seorang pembenci akut Imam Syafi’i. Dialah yang memfitnah dan melaporkan pada Khalifah Harun bin Rasyid bahwa Imam Syafi’i terlibat dalam rencana merongrong kekuasaan khalifah.Akhirnya, Imam Syafi’i ditangkap, tangan dan kakinya diikat dengan rantai, diarak di jalanan sebagai seorang yang tertuduh melawan kekuasaan negara.

    Orang yang diutus Khalifah Harun al-Rasyid untuk menangkap Imam Syafi’i bernama Hammad al-Barbari. Imam Syafi’i ingin dipermalukan di depan pengagumnya bahwa ia ternyata bukan seorang ulama, namun seorang perongrong negara. Itulah pesan yang disampaikan dari pemborgolan Imam Syafi’i.

    Beruntung, Imam Syafi’i dihadapkan dihadapan seorang khalifah yang cerdas dan bijaksana. Tuduhan bahwa beliau seorang yang terlibat sebagai bagian dari Syiah Rafidhah yang diduga merencanakan konspirasi perlawanan tidak terbukti dan kemudian dilepaskan.

    Imam Syafi’i dihadapkan pada pemimpin negara yang cerdas. Sekali lagi, pemimpin negara yang cerdas dan bijaksana. Bukan pemimpin yang menuruti hawa nafsunya. Akhirnya, fitnah itu terselesaikan.

    Kali peristiwa lainnya, ketika Imam Syafi’i tiba di Mesir, rakyat Mesir berbondong-bondong menyambut kedatangan Imam Besar itu, hingga memunculkan kecemburuan dari para pemimpin pejabat di sana dan ulama-ulama Su’u yang khawatir tergeser pengaruh mereka.

    Mereka pun merencanakan ingin membunuh Imam Syafi’i. Lantas Imam Syafi’i yang menyadari hal itu mengatakan: “Mereka menginginkan kematianku, sedangkan kematian merupakan jalan setiap manusia, bukan hanya jalanku.”

    Begitulah sejarah mengajari kita. Akhirnya, sejarah mencatat Imam Syafi’i tetaplah mulia di sisi Allah dengan kebenaran yang beliau pegang. Hari ini semua orang berbangga menjadi pengikutnya.

    Sedangkan bagi para pembencinya, adakah hari ini orang yang berbangga menjadi pengikut Mutharrif bin Mazin? Jangankan menjadi pengikutnya, sejarah pun menghilangkan namanya dari nama orang-orang mulia dan tidak lagi dikenal melainkan sebagai seorang yang jahat akal bulusnya.

    Nanti kita kelak ingin dikenal sebagai apa oleh anak cucu kita. Pengikut kebenarankah atau orang yang bungkam dengan ketidakadilan? Semoga Allah senantiasa mencurahkan taufik dan kasih sayang-Nya kepada kita. Aamiin!