Guru SD di Surabaya Cabuli 8 Muridnya

0
345
NH saat ditahan di Mapolrestabes Surabaya. Foto/SINDOnews

Surabaya,(GerakJatim.com) – Satreskrim Polrestabes Surabaya, menangkap seorang guru sekolah dasar (SD) di Kota Surabaya, berinisial NH (40) lantaran diduga mencabuli delapan siswa didiknya.

Rata-rata usia korban yang dicabuli pelaku antara 10-12 tahun. Dari delapan siswa tersebut, tiga di antaranya adalah perempuan. Sisanya laki-laki.

Kasus ini terungkap setelah salah satu siswa mengadu ke orang tuanya karena kesakitan akibat tindakan cabul pelaku. Orang tua pun segera memeriksa anaknya dan diketahui anaknya menjadi korban pelecehan. Orang tua korban akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polrestabes Surabaya.

“Kami segera menindaklanjutinya dan melakukan penangkapan di rumah pelaku,” kata Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Ardiansyah Satrio Utomo di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (12/3/2020).

Untuk bisa mencabuli siswanya, tersebut NH berdalih ingin membersihkan dan memandikan korban-korbannya yang masih awam terhadap kegiatan seksual. Karena masih anak-anak, pelaku memanfaatkannya dengan melakukan tindakan cabul. Yakni dengan meraba-raba bagian tubuh para muridnya. “Pencabulan dilakukan sejak akhir 2019 hingga awal 2020 atau sekitar lima bulan,” ujar Ardiansyah.

Ardian menambahkan, pelaku diketahui berprofesi sebagai guru di salah satu SD swasta di Surabaya. Tersangka merupakan guru matematika. Namun sekarang sudah dikeluarkan dari sekolah. “Saat ini, kami masih mendalami apakah masih ada korban lain, selain delapan anak-anak di bawah umur ini,” imbuh Ardiansyah.

Dihadapan penyidik, NH mengaku menyesali atas perbuatan yang telah dia lakukan. “Saya menyesal,” katanya singkat dengan kepala tertunduk.

Atas perbuatannya, NH dijerat pasal 82 ayat 1 dan 2 UU No. 17/2016 junto pasal 76E UU No. 35/2014 Tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No. 1/2016 tentang perubahan kedua, atas UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara, serta denda paling banyak Rp5 miliar.(eyt)

 

 

 

 

 

Sumber: jatim.sindonews.com