Miras Oplosan di Trenggalek, Digrebek Polisi

0
255
Jumpa Pers Polres Trenggalek/Foto: Adhar Muttaqin

Trenggalek,(GerakJatim.com) – Polisi membongkar praktik produksi miras oplosan di pesisir selatan Trenggalek. Produksi dilakukan di sebuah dapur yang kumuh.

Kapolres Trenggalek AKBP Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan, dalam kasus ini polisi juga menangkap DR (45) warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. DR selaku pemilik tempat usaha sekaligus pelaku utama. Selain itu polisi juga menetapkan HD (38) sebagai tersangka yang merupakan pengecer minuman produksi DR sekaligus pengoplos ulang.

“Produksi miras oplosan ini sudah berlangsung sekitar lima bulan terakhir,” kata Calvijn, Jumat (28/2/2020).

Lokasi pembuatan minuman keras oplosan itu dijalankan oleh DR di dapur rumahnya. Tempat produksi miras oplosan terkesan kumuh dan banyak terdapat botol air mineral bekas.

Menurut Calvijn, tersangka memproduksi miras tanpa dibekali dengan keahlian khusus. Tersangka hanya asal meracik dengan memanfaatkan peralatan dan bahan sederhana.

Untuk membuat miras, DR menggunakan bahan baku alkohol 90 persen, serta cairan-cairan lainnya. Cairan berbagai jenis itu selanjutnya dicampur dan dikemas dalam botol air mineral.

“Saat meracik, air yang digunakan itu dalam kondisi panas,” ujarnya.

Kapolres menjelaskan, dari hasil pemeriksaan, sebagian bahan baku miras didatangkan dari wilayah Kediri. Sedangkan hasil pembuatan miras oplosan dijual di wilayah Kecamatan Watulimo dengan harga Rp 40 ribu/botol.

Dari pengembangan kasus tersebut, polisi akhirnya mengungkap jaringan yang ada di bawahnya dengan tersangka HD. Ia yang juga berasal dari Desa Tasikmadu mengambil miras oplosan dari DR. Namun minuman tersebut tidak langsung dijual.

“Namun tersangka terlebih dahulu mengoplos ulang menggunakan air mineral. Satu botol miras oplosan yang dari DR, oleh HD ia pisah menjadi tiga bagian. Selanjutnya ditambah dengan air,” imbuhnya.

Lanjut Calvijn, miras oplosan tersebut dipasarkan di Watulimo dengan sasaran para nelayan maupun masyarakat umum. Tersangka DR, biasanya memproduksi miras oplosan sampai puluhan hingga ratusan botol dalam sekali produksi. Sedangkan tersangka HD hanya mencapai belasan botol untuk sekali produksi.

“Tersangka kami jerat dengan Undang-undang Pangan serta Undang-undang Perdagangan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara,” pungkas Calvijn.(sun/bdh)