Polres Tanjung Perak Ungkap Kasus Surat Rapid Test Palsu, Oknum Puskesmas Hingga Bos Travel Juga Diamankan

0
188

Surabaya,(Gerakjatim.com) – Satreskrim Polres Tanjung Perak mengungkap praktik surat keterangan rapid test palsu yang diperuntukkan bagi penumpang kapal laut yang hendak melalukan perjalanan ke luar Pulau Jawa.

Dalam kasus ini 3 orang diamankan, yakni masing-masing berinisial MR (55), BS (35) dan SH (46). Mereka memiliki peran yang berbeda-beda.

Menurut Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Ganis Setyaningrum ketiga orang tersebut statusnya sudah sebagai tersangka. Para penumpang sebelumnya memperoleh informasi karena dapat tawaran dari pemilik agen perjalanan travel.

“MR selaku pemilik travel atau penjual tiket, SH selaku calo tiket dan BS selaku penyedia surat keterangan rapid tes palsu yang berprofesi sebagai perawat di sebuah Puskesmas di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak,” ungkap AKBP Ganis, Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin, (21/12/2020).

Lebih lanjut AKBP Ganis menjelaskan, MR ini sebagai pemilik agen travel perjalanan. BS adalah calo dan SH adalah salah satu pegawai puskesmas di wilayah hukum yang ada di Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Ganis menjelaskan, selain ketiga tersangka, tidak menutup kemungkinan ada keterlibatan pihak lain yang saat ini tengah didalami. “Bisa jadi dimungkinkan, kemungkinan ini sedang kita dalami. Kemudian juga kita mendalami perusahaan kapal, baik BUMN dan Swasta. Karena perjalanan ke sana termonitor ada 3 kapal yang menuju ke Indonesia bagian timur,” terangnya.

Modus yang digunakan yaitu menawarkan surat keterangan rapid test yang merupakan syarat wajib bagi seseorang untuk masuk ke pulau tujuan. Seperti Papua, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk memperoleh surat keterangan rapid tes palsu ini setiap orang dimintai uang sebesar Rp 100 ribu.

“Kami mengumpulkan uang hasil penjualan surat keterangan rapid tes palsu ini dengan nilai total Rp. 5.790.000. jika rata-rata harga satu suratnya Rp 100 ribu, berarti sudah puluhan kali para tersangka melakukan aksinya. Apalagi mereka juga bilang uang yang kami sita ini sebagian sudah mereka belanjakan,” ujarnya.

Sementara menurut pengakuan SH salah satu pelaku yang bekerja di Puskesmas, dia melakukan pemalsuan dari stampel dan tanda tangan dokter. Pemalsuan ini digunakan untuk membuat surat rapid hasil negatif agar penumpang bisa keluar pulau naik kapal.

“Sudah banyak surat yang dibuat. Saya gak tahu persisnya berapa kali. Kita bikin surat karena terdesak ekonomi saja,” katanya.

Para pelaku akan dijerat UU Kesehatan RI dan pemalsuan dokumen.

 

 

 

 

 

 

Benny Hermawan RRI Surabaya