Gerakan Aksi Stop Bullying di Sekolah, SMP Khadijah 2 Surabaya Gelar Saling Menyuapi Makanan

0
143
Para siswa dan guru antusias mengikuti aksi simpatik "stop bullying, sayangi teman" foto: zi

Surabaya,(Gerakjatim.com) – Semakin banyaknya aksi Bullying antar siswa yang viral akhir-akhir ini, membuat SMP Khadijah 2 Surabaya khawatir terhadap anak didiknya.

SMP Khadijah 2 Surabaya ajak siswanya untuk menjauhi prilaku bullying dan aksi gangster dengan mengadakan rangkain kegiatan bertema “Stop Bullying, Sayangi Teman” yang diadakan pada Selasa pagi (18/2) di aula sekolah yang beralamat di Darmo Permai Selatan V nomor 63-65 Surabaya.

Bullying kembali menjadi sorotan publik nasional setelah tiga kejadian di 3 SMP berbeda, yakni aksi bullying di SMPN 16 Malang yang menyebabkan satu siswa diamputasi jarinya. Tragedi ditemukannya mayat siswi SMPN 6 Cirebon di gorong-gorong depan sekolah, siswi ini dulunya kerap di-bully temannya karena profesi ortunya sebagai penjual lontong. Terakhir, kejadian di SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo Jawa Tengah ketika 3 orang siswa menghajar temannya secara bergantian.

Guru dan siswa saling menyuapkan makanan/ foto:zi

Kegiatan “Stop Bullying, Sayangi Teman” di SMP Khadijah 2 Surabaya dibuka dengan lomba membuat quote yang diikuti seluruh siswa sejumlah hampir 100 anak. Seluruh hasil karya siswa dipajang di teras sekolah.

Acara dilanjutkan dengan sosalisasi bahaya bullying, gangster dan hoaks dengan menghadirkan narasumber perwakilan polisi, komnas pendidikan dan komite sekolah.

Bhabinkamtimas polsek Tandes Surabaya, brigadir Eko Iman S.,dalam pemaparannya menjelaskan pengaruh buruk bersosial media bagi remaja, seperti penulisan yang kurang formal dan terkesan asal-asalan.

“Kadang remaja saat menulis di sosmed menyalahi etika dan isi tulisannya di sosmed itu terbawa dalam kehidupan di sekolah sehingga mempengaruhi cara bergaul mereka,” terang Eko.

Terkait bullying. Brigadir Eko menjelaskan pengertian bullying, jenis-jenis bullying, akibat bullying dan ancaman hukum bila seseorang melakukan bullying.

“Bullying bisa berupa verbal, fisik, social dan cyber bullying. Masing-masing memiliki ancaman pindana berbeda,” tegas Eko.

Pemaparan brigadier Eko mendapat dukungan dari Komisi Nasional Pendidikan (KNP), sebagai badan baru yang siap mendampingi sekolah dalam memberikan advokasi dan konseling, apabila sekolah menghadapi permasalahan, termasuk masalah hukum.

“Komnas Pendidikan dibentuk tahun 2008, di Jatim baru ada sejak tahun 2018, kami siap berikan advokasi dan konselor bagi lembaga sekolah yang terjerat masalah, termasuk bila terjadi bullying di sekolah,” terang Diana wakil ketua KNP Jatim.

Uniknya, guna menanamkan rasa saling menyayangi, acara diakhiri dengan aksi saling menyuapi makanan antar siswa dengan sesama temannya, siswa dengan guru, siswa dengan komite sekolah, siswa dengan polisi dan siswa dengan komnas pendidikan.

Para siswa dan guru foto bersama setalah acara selesai

“Menyuapi makanan adalah simbol riil rasa kasih sayang. Ibu menyuapi makanan anaknya, anak menyuapi makanan saat orang tuanya sakit, orang menyuapi makanan untuk lansia. Semua itu dilakukan jelas karena rasa saling menyayangi sesama manusia,” ungkap Umi Muntafi’ah selaku kepala sekolah SMP Khadijah 2 Surabaya.

Selain itu. Aksi menyuapi makanan dipilih karena di sekolah ini mewajibkan siswanya untuk membiasakan membawa makanan (bekal) dari rumah.

“Membawa bekal makanan dari rumah adalah simbol keharmonisan keluarga, higenitas makanan dan jelas lebih hemat,” pungkas Umi. (zi/red)