Perhatikan Petani Tebu, Tiga Asosiasi Pengusaha Malang Raya Cetuskan “Gerakan Membeli Gula Lokal”

0
34

Malang,(GerakJatim.com) – Tiga asosiasi pengusaha Malang Raya mengadakan tatap muka dengan Ketua Umum PKPTR (Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat), KH Hamim Kholili atau Gus Hamim dan General Manager PG Krebet Baru I, Adang Sukendar Djuanda, Kamis pagi (11/2/2021).

Tatap muka itu bertempat kediaman Gus Hamim di Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlatul Ulum 2 Putri, Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Sebagai bentuk perhatiannya kepada petani tebu lokal tiga asosiasi yaitu Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto Indonesia), APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), dan IMA (Indonesia Marketing Association) Chapter Malang sepakat mencetuskan sebuah gerakan sosial berupa “Gerakan Membeli Gula Lokal”.

“para Kepala Daerah harus menerbitkan regulasi, agar gula-gula lokal petani dapat dijual di retail-retail yang ada di Malang, sehingga gula yang beredar adalah gula lokal, dan masyarakat tidak membeli gula impor,” Ujar Kurniawan Muhammad Presiden IMA Chapter Malang.

Disampaikan juga olehnya bahwa akan dilaksanakan audiensi dengan tiga Kepala Daerah Malang Raya.

Sementara itu, Fifi Trisjanti selaku Ketua APPBI DPC Kota Malang sekaligus Direktur Mall Malang Town Square (Matos) rencananya akan memasarkan gula lokal di supermarket dengan harga khusus.

“Saya akan ambil beberapa ton (gula lokal), dan yang nantinya akan jual di mall di bawah HET (harga eceren tertinggi). Dalam waktu dekat kami akan menggelar promo “Tebus Gula Murah” sekaligus menyambut perayaan Imlek,” tuturnya.

Ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi  juga  menyampaikan bahwa asosiasinya akan membeli gula petani sekitar 1,5 ton untuk para anggota. “Mungkin jumlah ini tidak seberapa. Akan tetapi yang terpenting adalah esensi dari gerakan ini, untuk membangkitkan semangat membantu petani tebu lokal,” ungkap pemilik Rumah Makan Kertanegara Malang itu.

Mendengar gagasan tiga asosiasi pengusaha Malang Raya tersebut, Gus Hamim melayangkan apresiasi, dan berharap, agar gerakan yang dicetuskan di Malang ini mendapat respons hingga ke Pemerintah Pusat.

“artinya, importir harus peduli dengan keadaan ini. Jika pengusaha Malang Raya bisa peduli (nasib petani tebu lokal), kenapa importir tidak? Pesannya harus sampai (ke Pemerintah Pusat), dan akhirnya terjadilah regulasi. Regulasi biasanya timbul karena ada desakan,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlatul Ulum itu.

“Sejatinya gula lokal tidak kalah dengan gula impor. Gula impor warnanya putih sekali, kadang cenderung lembut, tapi rasanya kurang manis bila dibandingkan dengan gula lokal. Sebenarnya gula lokal pun bisa diproses menjadi putih, tapi hasilnya tidak putih sekali,” ujar Adang Sukendar Djuanda selaku GM PG Krebet I Malang

Saat ini terdapat 44 ribu ton gula petani menumpuk di gudang PG Krebet Baru dan PG Kebon Agung. Jumlah ini berkurang 11 ribu ton dari temuan akhir bulan lalu, yaitu sebanyak 65 ribu ton.

“Harus laku sebelum musim giling berikutnya, Juni 2021. Yang jadi masalah, itu gula milik petani yang belum dibayar. Sepanjang sejarah, ini yang terparah,” pungkas Gus Hamim.

Jurnalis (U.k)