Satpol-PP Kenjeran Lecehkan Profesi Jurnalis Dan Lakukan Intimidasi, Saat Dua Awak Media Liputan

0
3868

Surabaya, (GerakJatim.com)  Рdi masa PSBB Surabaya jilid kedua di laksanakan, TNI , POLRI, staff pemerintah kota Surabaya yang terkait dan Satpol-PP rutin melaksanakan giat operasi PSBB di sejumlah wilayah, penegakan aturan tersebut guna menekan penyebaran virus Covid-19 di Surabaya.

Sabtu malam Minggu di pekan pertama PSBB jilid kedua berlangsung, jajaran pemerintah kota , polres pelabuhan Tanjung perak, TNI dan Satpol-PP mengadakan operasi gabungan PSBB semprot disinfektan dan menindak para warung kopi yang masih buka hingga jam 21.00 malam di wilayah kecamatan Kenjeran,(16/05/2020).

Saat awak media di lapangan Kasat Sabhara Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Windu Priyoprayitno Spd menjelaskan,” Operasi gabungan ini dilakukan untuk menindak lanjuti laporan warga di Suara surabaya, dimana PSBB di wilayah Kenjeran menjadi Sorotan karna banyak nya warung kopi yang masih buka di atas jam 9 malam, warung yang masih buka kami tindak dengan penyitaan bangku dan KTP pemilik warung, dan untuk pengunjung yang tak memakai masker dan tidak membawa identitas kami bawa ke Mapolres pelabuhan Tanjung perak” terang Kasat Sabhara Polres Pelabuhan Tanjung Perak dengan ramah dan bersahabat kepada awak media

Namun disayangkan saat di tengah peliputan operasi tersebut di salah satu warkop di jalan randu terjadi insiden satpol PP mengintimidasi terhadap dua orang awak media, dimana awak media tidak di perkenankan meliput kegiatan tersebut, bahkan salah satu oknum satpol PP tersebut menanyakan kartu identitas wartawan, setelah di tunjukkan oknum satpol PP tersebut mengatakan saya bisa buat banyak kartu seperti itu dengan nada sombongnya.

Saat awak media menanyakan nama oknum tersebut beliau menghindar, kasi trantib kecamatan Kenjeran Hanung bukan membuat suasana mencair namun malah ikut mengintimidasi kedua awak media tersebut.

Disaat kedua awak media di intimidasi oleh banyak anggota Satpol PP

” Surat tugasnya mana dan kamu tadi tidak ikut apel di kecamatan, hapus semua video di hp kamu ” dengan angkuhnya dan nada keras terhadap kedua awak media tersebut.

Wartawan yang di lindungi oleh undang-undang pers no.40.tahun 1999 pasal  4 ayat (1),(2) dan (3), pasal 5 ayat (1), pasal 8 dan pasal 18 ayat (1) dimana jelas barang siapa menghalang-halangi tugas jurnalistik dikenakan sanksi kurungan 2 tahun penjara atau denda Rp 500.000.000,- ( Lima ratus juta rupiah).

Press card pers dan kartu tugas liputan khusus yang di kantongi kedua awak media tersebut tak di akui dan Hanung bersama jajaran nya terus mengintimidasi kedua awak media tersebut.

Sungguh sangat di sayangkan ketika semua jajaran yang tergabung dalam kegiatan operasi ini, merangkul dan bermitra dengan awak media, Satpol PP tersebut malah mengintimidasi bahkan melarang awak media untuk mengambil video dalam liputan nya.(Zi/Red)